Saturday, December 15, 2012

Apa itu Insan Kamil?

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Insan kamil atau manusia paripurna dibahas secara khusus oleh para sufi, khususnya Ibnu Arabi dan Abdul Karim Al-Jili. Pengertian insan kamil tidak sesederhana seperti yang selama ini dipahami kalangan ulama, yaitu manusia teladan dengan menunjuk pada figur Nabi Muhammad SAW.

Bagi para sufi, insan kamil adalah lokus penampakan (madzhar) diri Tuhan paling sempurna, meliputi nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah SWT memilih manusia sebagai makhluk yang memiliki keunggulan (tafadhul) atau ahsani taqwim (ciptaan paling sempurna) menurut istilah Alquran.

Disebut demikian karena di antara seluruh makhluk Tuhan manusialah yang paling siap menerima nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Makhluk lainnya hanya bisa menampakkan bagian-bagian tertentu. Bandingkan dengan mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan malaikat tidak mampu mewadahi semua nama dan sifat-Nya.

Itulah sebabnya mengapa manusia oleh Seyyed Hossein Nasr disebut sebagai satu-satunya makhluk teomorfis dan eksistensialis, seperti dijelaskan pada artikel yang lalu. Lagi pula, unsur semua makhluk makrokosmos dan makhluk spiritual tersimpul dalam diri manusia. Ada unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, dan binatang sebagai makhluk fisik.

Ada juga unsur spiritualnya yang non-fisik, yakni roh. Tegasnya, manusia sempurna secara kosmik-universal dan sempurna pula pada tingkat lokal-individual. Itu pula sebabnya manusia sering disebut miniatur makhluk makrokosmos (mukhtasar al-‘alam) atau mikrokosmos (al-insan al-kabir).

Keparipurnaan manusia diungkapkan pula dalam ayat dan hadis. Dalam Alquran disebutkan, manusia diciptakan paling sempurna (QS. At-Tin: 4) dan satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan “dua tangan” Tuhan (QS. Shad: 75), dan diajari langsung oleh Allah semua nama-nama (QS. Al-Baqarah: 31).

Dalam hadis-hadis tasawuf, banyak dijelaskan keunggulan manusia, seperti, Innallaha khalaqa ‘Adam ‘ala shuratih (Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya). Oleh kalangan sufi, ayat dan hadis itu dinilai bukan saja menunjukkan manusia sebagai lokus penjelmaan (tajalli) Tuhan paling sempurna, melainkan juga seolah menjadi nuskhah atau salinan. Menurut istilah Ibnu Arabi disebut as-shurah al-kamilah.

Manusialah satu-satunya makhluk yang mampu mengejawantahkan nama dan sifat Allah baik dalam bentuk keagungan maupun keindahan Allah. Malaikat tidak mungkin mengejawantahkan sifat Allah Yang Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penerima Taubat karena malaikat tidak pernah berdosa.

Tuhan tidak bisa disebut Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penerima Taubat tanpa ada makhluk dan hambanya yang berdosa, sementara malaikat tidak pernah berdosa. Demikian pula makhluk-makhluk Allah lain yang hanya mampu mengejawantahkan sebagian nama dan sifat Allah. Dari sinilah sesungguhnya manusia disebut insan kamil.

Kesempurnaan lain manusia menurut Ibnu Arabi adalah diri manusia mempunyai perpaduan dua unsur penting, yaitu aspek lahir dan batin.

Aspek lahir baharu (hadis) dan aspek batin yang tidak baharu. Seperti disimpulkan Dr Kautsar Azhari Noer dalam disertasinya, “Aspek lahir manusia adalah makhluk dan aspek batinnya adalah Tuhan.”

Kepaduan dan kesempurnaan manusia inilah yang melahirkan konsep khalifah dan ketundukan alam semesta (taskhir). Atas dasar ini maka dapat dipahami mengapa para malaikat sujud kepada Adam dan alam semesta tunduk kepada anak manusia.

Namun, perlu diketahui, konsep insan kamil menurut Ibnu Arabi maupun Al-Jili menyatakan tidak semua manusia berhak menyandang gelar ini. Manusia yang tidak mencapai tingkat kesejatiannya seperti manusia yang didikte hawa nafsunya sehingga meninggalkan keluhuran dirinya, kata Ibnu Arabi, tidak layak disebut insan kamil.

Hanyalah mereka yang telah menyempurnakan syariat dan makrifatnya benar yang layak disebut insan kamil. Manusia yang tidak mencapai tingkat kesempurnaan lebih tepat disebut binatang menyerupai manusia dan tidak layak memperoleh tugas kekhalifahan.

Perlu ditegaskan kembali, kesempurnaan manusia bukan terletak pada kekuatan akal dan pikiran (an-nuthq) yang dimilikinya, melainkan pada kesempurnaan dirinya sebagai lokus penjelmaan diri (tajalli) Tuhan. Manusia menjadi khalifah bukan karena kapasitas akal dan pikiran yang dimilikinya.

Alam raya tunduk kepada manusia bukan pula karena kehebatan akal pikirannya, tetapi lebih pada kemampuan manusia mengaktualisasikan dirinya sebagai insan kamil. Kemampuan aktualisasi diri ini bukan kerja akal, melainkan kerja batin, yakni kemampuan intuitif manusia menyingkap tabir yang menutupi dirinya dari Tuhan.

Kekuatan intuitif (kasyf) dan rasa (dzauq) jauh lebih dahsyat daripada akal pikiran. Tidak semua manusia secara otomatis mampu menjadi insan kamil. Ia memerlukan perjuangan dan mungkin perjalanan panjang. Tidak cukup bermodal kecerdasan logika dan intelektual. Yang lebih penting adalah kecerdasan emosional-spiritual.

Modal utama menjadi khalifah di bumi pun tidak cukup dengan kecerdasan logika dan intelektual, tetapi diperlukan juga kualitas insan kamil. Saat alam dikelola manusia yang tidak berkualitas insan kamil, selain menimbulkan ancaman yang dikhawatirkan malaikat, yaitu kerusakan alam dan pertumpahan darah (QS. Al-Baqarah: 30), alam juga belum tentu mau tunduk kepada manusia.

Banyak contoh alam membangkang kepada manusia sebagaimana diperlihatkan di dalam kisah-kisah umat terdahulu di dalam Alquran.

Umat Nuh yang keras kepala (QS. 53: 52) ditimpa bencana banjir (QS. 11: 40). Umat Syu’aib yang korup (QS. 7: 85, 11: 84-85) ditimpa gempa mematikan (QS 11: 94).

Umat Saleh yang hedonistik (QS. 26: 146-149) ditimpa keganasan virus dan gempa bumi (QS. 11: 67-68). Umat Luth yang dilanda penyimpangan seksual (QS. 11: 78-79) ditimpa gempa dahsyat (QS. 11: 82). Penguasa Yaman, Raja Abrahah, yang ambisius ingin mengambil alih Ka’bah dihancurkan oleh burung/virus (QS. 105: 1-5).

Hujan tadinya menjadi sumber air bersih dan pembawa rahmat (QS. 6: 99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka. Banjir memusnahkan areal kehidupan manusia (QS. 2: 59). Gunung-gunung tadinya sebagai patok bumi (QS. 30: 7) tiba-tiba memuntahkan lahar panas dan gas beracun (QS. 77: 10).

Angin yang tadinya berfungsi dalam proses penyerbukan tumbuh-tumbuhan (QS. 18: 45) dan mendistribusikan awan (QS. 2: 164) tiba-tiba tampil ganas meluluhlantakkan segala sesuatu yang dilewatinya (QS. 41: 16). Lautan tadinya jinak melayani mobilitas manusia (QS. 22: 65) tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya (QS. 81: 6).

Tadinya, malam membawa kesejukan dan ketenangan (QS. 27: 86) tiba-tiba menampilkan ketakutan yang mencekam dan mematikan (QS. 11: 81). Siang tadinya menjadi hari-hari menjanjikan (QS. 73: 7) seketika berubah menjadi hari-hari menyesakkan dan menyedot energi positif (QS. 46: 35).

Kilat dan guntur sebelumnya menjalankan fungsi positifnya dalam proses nitrifikasi untuk kehidupan makhluk biologis di bumi (QS. 13: 12) tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya, menetaskan larva-larva (telur hama) betina, yang memusnahkan berbagai tanaman para petani (QS. 13: 12).

Disparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS. 13: 4) tiba-tiba berkembang menyalahi pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia sehingga kesulitan memenuhi komposisi kebutuhan karbohidrat dan proteinnya secara seimbang (QS. 7: 132).

Manakala manusia kehilangan jati dirinya sebagai insan kamil, pertanda berbagai krisis akan muncul. Sebaliknya, selama masih ditemukan kualitas insan kamil di muka bumi, sepanjang itu kiamat belum akan terjadi.

Sumber : Republika

Bagaimana Belajar Makrifat?

Prof Dr Nasiruddin Umar

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kalian yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kalian, dan mengajarkan kepada kalian kitab dan hikmah, serta mengajarkan apa yang kalian belum ketahui". (QS al-Baqarah [2] 151).

Dalam ontologi keilmuan Islam, ilmu dan makrifat mempunyai persamaan dan perbedaan. Persama-annya, keduanya sama-sama sebagai pengetahuan yang diperlukan manusia guna memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Perbedaannya, dari segi ontologi, ilmu adalah pengetahuan yang berada dalam lingkup dan domain manusia tanpa harus melibatkan unsur-unsur asing dari luar diri manusia. Logika manusia cukup untuk memahami objek ilmu.

Sedangkan makrifat adalah pengetahuan yang secara umum berada di luar lingkup dan domain manusia. Keberadaannya ditentukan kemampuan manusia mengakses unsur-unsur luar dirinya, dalam hal ini Tuhan. Secara epis-timologis, ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui hasil olah nalar dan logika manusia. Sementara itu, makrifat adalah pengetahuan yang diperoleh melalui hasil olah batin dan spiritual manusia.

Orang yang mengusai ilmu disebut alim dan orang yang menguasai makrifat disebut arif. Hanya sedikit menjadi rancu ketika kata "tim dam marifah diindonesiakan menjadi ilmu dan makrifat. Ini sudah mengalami reduksi dan penyederhanaan makna. Secara aksiologis, ilmu bertujuan memberi kejelasan dan kemudahan manusia di dalam menjalani kehidupannya.

Makrifat, lebih berusaha untuk memberikan kepuasan intelektual dan spiritual yang pada akhirnya akan menghadirkan rasa tenang dan damai secara konstruktif ke dalam diri manusia. Metodologi keilmuan umumnya berangkat dari sikap keraguan terhadap satu fenomena atau informasi.

Dari sikap ini, lahirlah upaya untuk memahami dan mendalami dalam bentuk studi yang melibatkan parameter keilmuan logika. Seperti melakukan observasi atau survei dan penelitian mendalam lainnya sebagai pengujian kembali terhadap konsep dan teori yang dihasilkan oleh parameter tersebut.

Setelah itu harus ada keberanian intelektual si penelitinya untuk memublikasikan kesimpulan hasil-hasil studinya secara terbuka kepada publik. Sepanjang belum ada yang keberatan dan menolak (tentu saja setelah melalui studi yang selevel), sepan-jang itu pula diakui sebagai sebuah kebenaran yang dapat diyakini.

Jika ternyata di kemudian hari ada yang mematahkan logika dan temuan itu, bisa menjadi tanda berakhirnya konsep dan teori itu. Metodologi kemakrifatan sama sekali berbeda (untuk tidak mengatakan bertolak belakang) dengan metodologi keilmuan. Sebab, umumnya metode ini berangkat dari rasa dan sikap yakin terhadap suatu objek yang mengandung misteri.

Berangkat dari keyakinan itu, tugas pertama yang harus dilakukan guru atau mursyid adalah melakukan proses pembersihan diri para murid dari berbagai keraguan. Proses ini biasa disebut pembersihan jiwa (tadzkiyah al-nafs) atau penghalusan kalbu (tahdzib al-qulub). Proses ini digambarkan dalam surah al-Baqarah ayat 151 di atas.

Itu menjelaskan bahwa sebelum dilakukan proses pendidikan dan pengajaran atau taklim, terlebih dahulu dilakukan proses pembersihan diri. Selain ayat tersebut, masih banyak lagi ayat dan hadis, serta perkataan sahabat yang mengisyaratkan metode mendapatkan makrifat. Kisah antara Nabi Musa dan Khidir di dalam surah al-Kahfi juga relevan dengan pembahasan ini.

Bagaimana Nabi Musa yang dikenal sebagai nabi ulul azmi masih harus belajar kepada hamba Tuhan yang tidak populer di dunia publik. Persyaratan menjadi murid juga lebih unik dibanding dengan metode keilmuan biasa, yaitu, "...Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku menerangkan kepadamu." (QS al-Kahfi [18] 70).

Lebih unik lagi, sang guru mencontohkan sesuatu yang sama sekali di luar kemampuan logika untuk memahaminya, yaitu membocorkan perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil tak berdosa, dan memugar reruntuhan bangunan tua. Namun, ending dari cerita ini ialah Nabi Musa mendapatkan kearifan bahwa di atas langit masih ada langit. Ilmu Tuhan itu mahaluas.

Dari situ, kita pun mendapatkan hikmah bahwa manusia utama dan pilihan Tuhan tidak mesti harus populer, bahkan tidak mesti menjadi nabi. Rasulullah memberikan contoh bagaimana mempelajari makrifat dengan mengedepankan keikhlasan dan kedekatan diri terus-menerus kepada Allah SWT. Sahabatnya juga demikian.

Ali pernah membuat pernyataan "Barang siapa mengajariku satu huruf, aku rela menjadi budaknya". Generasi berikutnya, seperti Imam Bukhari, setiap kali akan menerima sebuah hadis terlebih dahulu ia shalat dua rakaat. Kitab Al-Talim wal Mu-taallim, yang mengajarkan sopan santun guru dan murid, mastfi dipegang teguh di sejumlah besar pondok pesantren.

Dalam tradisi intelektual Islam, tidak tampak perbedaan tajam antara metode memperoleh ih iu dan makrifat, bahkan keduanya sering digunakan bergantian {inter-changable). Dalam tradisi pondok pesantren, cara memperoleh ilmu masih tetap dominan mengakomodasi metodologi makrifat yang menuntut kepasrahan dan ketawadhuan santri kepada kiai atau gurunya.

Oleh karena itu, mungkin ilmuan pesantren menganggap pola pembidangan ilmu dan makrifat di atas dianggap terlalu ske-matis. Namun, pembahasan tni sekaligus juga untuk memberi masukan terhadap dunia pendidikan kita yang kini sedang disorot banyak kalangan. Ternyata tingginya ilmu pengetahuan yang dicapai seseorang tidak berbanding lurus dengan akhlaknya.

Sudah tentu, di situ ada yang salah. Setidaknya, mata rantai penyucian diri (tadzkiyah) sudah banyak ditinggalkan dan tidak lagi menjadi faktor dalam dunia pendidikankita. Umumnya, kita loncat ke proses pembelajaran (taklim). Padahal, Alquran mengingatkan kita perlunya mendahulukan tadzkiyah sebelum taklim.

Bahkan, salah satu ayat yang sering dipasang di punggung Alquran, "La yamassuhu illal muthahharun." (Tidak ada yang menyentuhnya [Alquran], selain hamba-hamba yang disucikan). (QS al-Hadid [57] 79). Di sisi lain, pengetahuan makrifat itu sendiri bertingkat-tingkat. Dimulai dari yang paling sederhana, yaitu mengenal makhluk-makhluk fisik Allah SWT.

Dari sini, ilmu menjadi bagian dari makrifat. Pengetahuan makrifat juga mencakup upaya mengenal makhluk-makhluk metafisik-spiritual, dan pada puncaknya mengenal Sang Pencipta dalam hubungannya dengan makhluknya. Tentu sajariada setiap jenjang makrifat itu membutuhkan metodologinya sendiri.

Guru atau mursyid juga bertingkat-tingkat, mulai dari mursyid biasa hingga wali, bahkan Nabi Muhammad secara langsung. Tidak masalah, apakah orang itu masih hidup atau sudah tiada. Faktanya, banyak sekali di antara para arifin, gurunya adalah orang yang sudah di alam lain (akan dibahas dalam artikel khusus). Tidak heran kalau di antara mereka ada yang mengatakan "Alangkah miskinnya seorang murid jika para gurunya hanya orang-orang hidup".

Sumber: Republika

Apa Itu Alam Mitsal?

Prof Dr Nasaruddin Umar

Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit.” (HR Ahmad).

(*Dalam redaksi yang lain “Seandainya setan-setan itu tidak mengelilingi qolbu anak Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam malakut langit).

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar melewati sebuah pemakaman. Tiba-tiba, Nabi tersentak dan berhenti di salah satu makam. Abu Bakar bertanya, mengapa mereka berdua harus berhenti di makam itu. “Apakah engkau tak mendengar mayat ini merintih kesakitan disiksa lantaran tak bersih saat ia buang air?” tanya Rosul.

Abu Bakar (*kemungkinan) sama sekali tidak mendengar suara itu. Lalu, Nabi mengambil setangkai pohon dan ditancapkannya di atas makam serta menjelaskan sepanjang tangkai itu masih segar, selama itu pula siksaan orang di bawah makam tersebut diringankan.

Dalam kesempatan lain, Ibnu Katsir dan beberapa kitab tafsir lainnya menceritakan seorang pemuda pedalaman (a’robi) berjalan kaki selama tiga hari tiga malam untuk menjumpai Nabi sebab ia merasa telah melakukan dosa besar :

Pada Senin, ia meninggalkan desanya dan baru sampai di rumah Rosululloh pada Rabu. Saat ia sampai di rumah Nabi yang terhubung dengan masjid, pemuda itu menjumpai kenyataan bahwa banyak orang sedang bersedih. Ia heran dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Salah seorang sahabat menjelaskan, Nabi baru saja dimakamkan setelah ia wafat hari Senin, tiga hari lalu. Mendengar berita itu, si pemuda menangis histeris dan tidak ada yang berhasil menghentikannya. Si pemuda menjelaskan kalau ia baru saja melakukan dosa besar kemudian datang berjalan kaki dari jauh untuk menemui Rosululloh karena terdorong oleh satu ayat yang memberinya harapan.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul, melainkan untuk ditaati dengan izin Alloh. Dan sungguh, sekiranya mereka telah menzholimi dirinya sendiri datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Alloh dan Rosul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapat Alloh Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS an-Nisa/4:60).

Si pemuda berharap Rosululloh mau memintakan maaf kepada Alloh atas dosa besarnya sebagaimana isyarat ayat ini. Namun, Rosululloh sudah wafat, inilah yang membuat pemuda tersebut terus meratap. Menjelang subuh, penjaga makam Rosululloh didatangi Rosululloh dan mengatakan: “Fabasysyirhu annalloha qod ghofaro lahu (gembirakanlah pemuda itu karena Alloh sudah mengampuninya).” Setelah mendengar penjelasan itu, si pemuda langsung berhenti menangis. Ia yakin apa yang disampaikan penjaga makam benar-benar pernyataan Rosululloh. Sebab, ia bersandar pada hadits shohih, “Barang siapa bermimpi melihat aku, akulah yang sesungguhnya dilihat. Satu-satunya wajah yang tak bisa dipalsu iblis hanya wajahku.”

Pertanyaan yang mengemuka di sini adalah bagaimana Rosululloh bisa mendengarkan ratap tangis di sebuah makam, sedangkan orang lain tidak bisa mendengarnya?

Bagaimana pula Nabi bisa memahami kalau ada pemuda meratapi dosa besar di dekat makamnya dan menjamin kalau dosa pemuda itu diampuni Alloh SWT ?

Kekuatan apa yang dimiliki Nabi sehingga bisa mendengarkan dan memahami sesuatu yang menurut orang lain itu wilayah alam ghoib?

Apakah hanya Nabi yang dapat mengakses alam ghoib?

Dalam ilmu tasawuf, fenomena-fenomena yang dialami Nabi dapat dijelaskan.

Ketika seseorang mampu membuka tabir yang menghijab dirinya, dia bisa menembus masuk ke dalam suatu alam yang disebut dengan alam mitsal (istilah Ibnu ‘Arobi) atau alam khayal (istilah Al-Ghozali), yang diterjemahkan oleh William C Chittick dengan The Imaginal Worlds.

Alam mitsal biasa juga disebut dengan alam antara (barzakh) karena berada di antara alam syahadah mutlak dan alam ghoib.Ini menunjukkan bahwa alam barzakh bukan hanya alamnya orang yang sudah wafat, melainkan juga dapat diakses orang-orang yang masih hidup, tetapi diberi kekhususan oleh Alloh.

Dengan kata lain, tidak mesti harus menunggu kematian untuk mengakses alam barzakh.

Alam mitsal adalah alam spiritual murni, tetapi masih bisa bertransformasi ke alam syahadah.

Orang-orang yang diberi kemampuan memasuki alam ini memiliki kekhususan untuk mengaktifkan indra-indra spiritualnya sehingga mereka mampu berkomunikasi secara spiritual dengan alam-alam lain, termasuk dunia lain. Mereka bisa berkomunikasi interaktif dengan arwah yang meninggal jauh sebelumnya. Mereka pun dapat berkomunikasi dengan malaikat dan jin, termasuk dengan benda-benda alam, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.

Ingat, tidak ada ‘benda mati’ dalam kamus Tuhan. Semua bisa bertasbih, “Tetapi, kita yang tidak mampu memahami tasbih mereka (wa lakin la ta’lamuna tasbihahum),” demikian penegasan Alloh.

Pengalaman ini banyak ditunjukkan di dalam Alquran dan hadits seperti peristiwa

Nabi Khidir yang diberi ilmu ladunni (min ladunni ‘ilman) dalam Suroh al-Kahfi. Dengan ilmunya itu, ia memahami masa depan anak kecil yang dibunuhnya. Nabi Sulaiman bisa berkomunikasi dengan malaikat, jin, burung-burung, ikan, dan angin.

Nabi Muhammad dalam beberapa hadits dijelaskan berdialog dengan binatang (unta dan kijang), berdialog dengan mimbar tua, dan berkomunikasi dengan nabi-nabi yang hidup jauh (*di masa) sebelumnya. Nabi secara intensif berkomunikasi dengan Jibril dan malaikat-malaikat lainnya.

Dalam literatur tasawuf, ternyata bukan hanya para nabi yang dapat mengakses alam barzakh dengan alam mitsalnya. Para wali (auliya’) dan orang-orang pilihan Tuhan pun melakukannya. Kitab Jami’ Karomatal-Auliya’ karya Syekh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (2 jilid) mengungkap sekitar 695 nama berkemampuan mengakses alam mitsal.

Hal itu ditandai dengan kemampuan mereka melakukan sesuatu yang bisa disebut dengan ‘perbuatan luar biasa’ (khoriq lil-’adah) atau karomah. Ternyata, banyak sekali di antara mereka yang dapat berkomunikasi aktif dengan Rosululloh, antara lain, Imam Al-Ghozali dan Ibnu ‘Arobi.

Jika Alloh menghendaki, Dia memberi kemampuan kepada kekasih-Nya mengakses alam terjauh sekalipun, seperti dijelaskan dalam firman-Nya, “(Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memilki ‘Arasy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Q.S. al-Mu’min/40:15).

Alam mitsal merupakan dambaan para pencari Tuhan (salik/murid). Namun, di sini perlu ditegaskan, jangan ada yang menjadikan alam mitsal sebagai tujuan. Mujahadah dan riyadhoh semata-mata dilakukan untuk memohon ridho Alloh, bukan untuk mencapai karomah atau untuk mengakses alam mitsal.

sumber : Republika

Apa Itu Alam Malakut?


Prof Dr Nasaruddin Umar
Tingkatan-tingkatan alam dalam dunia tasawuf yaitu alam mulk, Miotsal atau hayal, dan alam barzakh, yang keseluruhannya ternyata akrab dengan manusia. Sementara alam malakut yang lebih di kenal dengan alamnya para malaikat dan jin, merupakan suatu alam yang tingkat kedekatannya dengan alam puncak lebih utama dari pada alam—alam sebelumnya.

Namun, alam malakut masih lebih rendah dari pada alam diatasnya, seperti jabarrut dan al-a’yan al-Tsabitah,. Mulai alam miotsal sampai alam-alam di atasnya tidak bisa di tangkap panca indra dasaratau fisik manusia karena sudah masuk wilayah alam ghaib. Manusia dengan panca indra fisiknya hanya mampu mengobservasi secara fisik alam syahadah mutlak, seperti alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan, dan sebagian dari dirinya sendiri.



Alquran mengisyaratkan unsur kejadian manusia ada tiga, yaitu unsur badan atau jasad, unsur nyawa (nafs), da unsur roh (ruh). Dalam Alquran, nyawa dan ruh berbeda. Nyawa dimiliki tumbuh-tumbuhan dan binatang, tetapi unsur roh tidak dimiliki keduanya, bahkan oleh seluruh makhluk Tuhan lainnya. Unsur roh inilah yang membuat para malaikat dan seluruh makhluk lainnya sujud kepada manusia (Adam).
Roh yang merupakan unsur yang ketiga manusia ini menjadi potensi amat dasyat baginya untuk mengakses alam puncak sekalipun. Unsur ketiga inilah yang disebut sebagai ciptaaan khusus (khalqon akhar)di dalam Alquran.

“sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian, kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, pencipta Yang paling baik”.(QS al-mukmin [23]:12-14).
Kata ansya’nahu khalqan akhar dalam ayat di atas, menurut para mufasir, maksudnya adalah unsur rohani setelah unsur jasad dan nyawa (nafs). Hal ini sesuai dengan riwayat ibnu Abbas yang menafsirka kata ansya’nahu dengan ja’ala ansya’al ruh fih, atau penciptaan roh kedalam diri adam. Unsur ketiga ini kemudian disebut unsur ruhani, atau lahut atau malakut, yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk biologis lainnya.

Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekailgus penyempurnaan subtansi manusia sebagaimana di tegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam surah al-Hijr: 28-29. Setelah pencitaan unsur ketiga ini selesai, para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepada Adam dan alam raya pun di tundukkan (taskhir) untuknya. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi (QS al-An’am [6]: 165) disamping sebagai hamba (QA al Zariat [51]:56).
Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik (ahsan taqwim/QS at-tin [95]:4), ia tidak mustahil akan turun kederajat paling rendah (asfala sa-filin)/Qs At-Tin [95]:5), bahkan bisa lebih rendah dari pada binatang ( Qs –al A’raf [7]:179).
Eksistensi kesempurnaan manusia dapat di capai manakala ia mampu menyinergikan secara seimbang potensi berbagai kecerdasan yang di milikinya. Seperti orang sering menyebutnya dengan kecerdasan unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsni EQ), dan kecerdasan ruhani (SQ). Tidak semua aspek manusia itu dapat dipahami secara ilmiyah dan terukur oleh kekuatan panca indra manusia. Karena memang unsur manusia memiliki unsur berlapis-lapis.

Dari lapis mineral tubuh kasar sampai kepada roh (unsur Lahut/malakut) yang di install Allah SWT sebagaimana di tegaskan lagi di dalam Alquran, “kemudian apabila telah aku sempurnakan kejadiannya dan aku tiupkan roh-Ku kepadanya, tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya. Lalu para malaikat itu bersujud semuanya”.(QS Shad[38]:72-73).
para penghuni alam malakut terdiri atas para jin dan malaikat, termasuk iblis. Alam ini tidak bisa di akses dengan panca indra atau kekuatan-kekuatan fisik manusia. Alam ini hanya bisa di akses manusia jika mereka mampu menggunakan potensi lahut dan malakut yang dimilikinya. Hubungan interaktif antara para penghuni alam dimungkinkan, mengingat berbagai alam itu sama-sama ciptaan Allah SWT.
Manusia sebagai makhluk utama memiliki kemampuan untuk itu karena kedahsyatan unsur ketiga tadi. Jika kita merujuk kepada pendapat Syekh Abdul qodir Jailani yang membagi Roh itu dalam empat tingkatan, semakin mudah kita memahami kemungkinan itu. Menurut Syekh Abdul Qodir Jailani dalam kitabnya sirr al – asrar, roh itu memiliki empat tingkatan.

Tingkatan itu adalah roh jasadi yang berinteraksi dengan alam mulk; roh ruhani yang berinteraksi dengan alam malakut; roh sulthoni yang beriteraksi dengan alam jabarut; dan roh al quds yang berinteraksi alam lahut. Namun perlu diingatkan di sini kit asebagai hamba tidak boleh terkecoh oleh bayangan keindahan alam-alam di atas manusia.
Jangan sampai kita lengah sehingga seolah-olah pencarian kita bukan lagi tertujuh kepada Ridha Allah semata, melainkan sesudahterkecoh oleh unsur-unsur kekeramatan. Semakin tinggi tigkat pencarian seseorang, semakin tinggi pula unsur pengecohnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi diatas. “kerjakanlah semuanya dengan semata - mata karena Allah SWT.

Apa Itu Alam Jabarut?

Apa Itu Alam Jabarut?

Prof Dr Nasaruddin Umar

Alam Jabarut merupakan kelanjutan dari alam Malakut. Kedua alam ini sama-sama di dalam alam gaib mutlak. Namun, alam Jabarut berada di atas lagi. Tidak semua penghuni alam Malakut dapat mengakses alam tersebut. Hal ini membuktikan, sesama penghuni alam Malakut tidak memiliki kapasitas yang sama di mata Allah SWT.

Alam Malakut memiliki penghuni tetap, yaitu para malaikat utama, seperti Jibril, Mikail, Israfil, dan lain-lain. Alam ini lebih dekat dengan “Maqam Puncak”, yang biasa disebut Haramil Qudsiyyah.

Dalam suatu pengelompokan, lapisan-lapisan alam dan maqamnya dapat dibedakan pada beberapa tingkatan.

Dalam suatu pengelompokan, lapisan-lapisan alam dan maqamnya dapat dibedakan pada beberapa tingkatan.

Tingkatan itu adalah :

= Maqam Ahdah yang mencakup alam Lahut dan Martabat Dzat;

= Maqam Wahdah mencakup alam Jabarut dan Martabat Sifat;

= Maqam Wahidiyah mencakup Alam Wahidiyah dan Martabat al-Asma’;

= Maqam Roh yang mencakup alam Malakut dan Martabat Af’al;

= Maqam Mitsal; dan

= Maqam Insan dan alam syahadah.

Kalau alam Malakut merupakan tahap atau maqam ruhaniah dan taman jiwa yang hakiki serta senantiasa mempertahankan kesuciannya, alam Jabarut sudah masuk dalam wilayah Lahut atau berada dalam hamparan Ma’rifatullah, tempat seluruh elemen dan yang banyak menjadi satu.

Alam Jabarut sudah masuk di dalam dunia rahasia Ilahi, tetapi masih tetap wilayah alam dalam arti alam gaib mutlak. Alam Jabarut sebagai bagian dari alam gaib mutlak agak sulit dijelaskan secara skematis karena sudah masuk wilayah antara alam dan Maqam Qudsiyah.
Alam ini berada di antara wilayah aktual dan wilayah potensial yang lazim disebut dengan al-A’yan al-Tsabitah (akan dibahas dalam artikel mendatang).

Penghuni Jabarut adalah sesuatu yang bukan Tuhan dalam level Ahadiyyah, melainkan derivasinya dalam level Wahidiyat.

Dalam buku-buku tasawuf, di alam Jabarut ini berlangsung apa yang disebut sebagai Nafakh al-Ruh (peniupan roh suci Allah) yang kemudian mampu manghidupkan jasad. Itulah sebabnya alam Jabarut biasa juga disebut dengan alam roh. Di alam ini, kita juga mengenal adanya realitas kesamaran antara “sesuatu” dan “bukan sesuatu”. Juga kesamaran antara “alam” dan “bukan alam” serta antara “sifat” dan “asma”.

Di dalam alam Jabarut terjadi proses suatu keberadaan dari keberadaan potensial ke keberadaan aktual.

Alam Jabarut adalah suatu alam yang tidak umum dijangkau oleh alam-alam sebelumnya, termasuk alam Malakut.

Ini sebagai bukti, bukan hanya alam Syahadah yang mengalami tingkatan-tingkatan, tetapi alam gaib juga bertingkat-tingkat.

Sesama penghuni alam gaib tidak semuanya bisa mengakses alam Jabarut, berkenalan dengan para penghuninya, dan memahami seluk-beluk peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Bangsa jin tidak bisa mengenal seluruh perilaku malaikat, meskipun sama-sama sebagai penghuni Malakut. Sesama malaikat pun tidak saling memahami rahasia satu sama lain. Para malaikat adalah makhluk profesional yang mengerjakan tugasnya masing-masing dan tidak saling mengganggu serta mengintervensi sebagaimana diamanatkan Allah.

Di antara para malaikat, ada malaikat utama dan keutamaannya dilihat dari perspektif manusia yang memilah fungsi-fungsi para malaikat.

Sementara itu, alam Jabarut merupakan alam paling tinggi karena di atasnya sudah tidak bisa lagi disebut dengan alam dalam arti ma siwa Allah.

Di atasnya, sudah bukan lagi alam, tetapi sudah masuk dalam wilayah Qudsiyyah. Sebagai alam paling tinggi, tentu menjadi objek cita-cita dan harapan manusia. Namun, perlu ditegaskan bahwa sebagai manusia kita tidak dituntut secara mutlak untuk memasuki alam-alam itu, namun juga tidak dilarang berupaya untuk itu.

Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan martabat-martabat kehidupan spiritual manusia dan menantang manusia untuk menaiki jenjang derajat yang lebih tinggi. Alquran mencela manusia yang cenderung set back ke jenjang derajat lebih rendah (asfala safilin).

Kalau manusia sudah berupaya menaikkan status ke alam yang lebih tinggi, namun tidak bisa menembus batas-batas alam tersebut, tidak perlu khawatir dan tak perlu dipermasalahkan. Tugas manusia hanya sebagai hamba dan khalifah. Bagaimana menjadi hamba yang lebih baik dan bagaimana menjadi khalifah lebih sukses di muka bumi ini.

Urusan menembus batas atau menyingkap tabir/hijab lalu memasuki alam dan maqam lebih tinggi itu adalah urusan dan hak prerogatif Allah. Apakah Allah mau memberi petunjuk dan siapa yang akan diberi petunjuk untuk itu, semuanya merupa kan rahasia Allah.

Upaya manusia meningkatkan martabat spiritual ke jenjang lebih tinggi ditempuh para sufi dan pengamal tarekat. Namun, substansi pendekatan mereka mempunyai benang merah yang sama, yaitu manusia selalu harus melakukan pembersihan diri (tadzkiyah al-nafs) melalui berbagai “exercise” (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah).

Dalam Kitab Manhalus Shafi disebutkan langkah-langkah konkret yang dilakukan para salik untuk mencapai tujuan spiritualnya. Kitab ini memperkenalkan apa yang disebut dengan ilmu martabat tujuh atau ilmu tahqiq.

Ketujuh martabat itu ialah :

- Hadratul Qudsi (puncak dari tempat penyucian diri) dan Unsi (tempat untuk bermesraan dengan Tuhan),

- Mufatahah (tempat untuk membuka rahasia Ilahi),

- Muwajahah (tempat untuk membuka hijab zulmani lalu menggunakan energi nuraniyah),

- Mujalasah (sarana untuk memisahkan dan membersihkan diri dari segala macam kemusyrikan),

- Muhadasah (tempat untuk menyingkap rahasia melalui Dirinya),

- Musyahadah (menyaksikan “wajah” Tuhan melalui seluruh alam ciptaan-Nya), dan Muthala’ah (menghayati keberadaan Tuhan melalui hidayah-Nya).
Bagi para salik yang akan menyingkap hijab dan seterusnya melaju ke alam lebih tinggi, menurut buku ini, sangat dimungkinkan. Jika seseorang mampu melewati maqam-maqam tersebut dengan baik, dipersepsikan manusia bisa mengakses alam manapun yang ia kehendaki.

Tentu saja tidak gampang mengakses maqam demi maqam yang berlapis-lapis itu. Peningkatan dari satu maqam ke maqam berikutnya terkadang ditempuh bertahun-tahun. Namun, tidak perlu berkecil hati karena jika Allah menghendaki, tentu tidak ada rintangan berarti bagi yang bersangkut an.

Memang dalam hadis tasawuf sering diungkap bahwa ada sekitar 70 ribu hijab yang menghijab manusia sehingga sulit mencapai mukasyafah (penyingkapan). Namun, tidak perlu takut dan berkecil hati, karena 100 ribu hijab pun dapat ditembus jika Allah menghendaki.

Seorang sufi mempunyai keuletan karena mempunyai tujuan bukan untuk menembus hijab itu tersingkap, tetapi bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, tanpa target lain.

Jika ada kalangan sufi memiliki tujuan membuka hijab atau memperoleh karamah dalam pencahariannya, boleh jadi dua-duanya tidak diperoleh. Tuhannya tidak didapat dan karamahnya pun hilang.

Para sufi dan salik tidak jarang terkecoh karena terdekonsentrasi oleh hal-hal yang tidak substansi. Mereka terkecoh oleh sesuatu yang bersifat sekunder lalu meninggalkan urusan primer. Yang primer itu adalah Tuhan yang sekunder itu adalah kelezatan dalam beribadah, kepemilikan karamah di depan jamaah, dan semacamnya.

(* Banyak yang terkecoh oeh rekayasa setan. Mereka menyangka sudah bertemu dengan “Tuhan”, padahal ia adalah setan yg menyaru dan mengaku “Tuhan”. Ciri-ciri pengecohan setan itu antara lain, sifat sombong, meremehkan pelaksanaan syareat, mengabaikan Nabi Muhammad SAW sebagai penunjuk jalan yang lurus
dan lain-lain).

Mari kita mencari yang substansi dan yang primer tanpa harus terkecoh dengan yang nonsubstansi dan yang bersifat sekunder, agar mikraj kita berhasil.

Sumber: Republika

Kualitas Maskulin Feminin dalam Sifat-sifat Tuhan



Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (Q.S.Al-Zariyat/51:49)

Ayat ini mengisyaratkan segala sesuatu selain Tuhan diciptakan berpasang-pasangan (za­ja³n). Bukan hanya manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan mempunyai pasangan, laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina, tetapi juga makhluk-makhluk lain seperti makhluk kosmologis. Di balik konsep berpasang-pasangan (azwaj) ini ada dua kualitas yang bekerja secara aktif dan mekanik, yaitu kualitas kejantanan dan ketegaran (masculinnity/struggeling) dan kualitas kelembutan dan kepengasihan (femininity/nurturing).

Al-Qur'an sering kali menyebutkan fenomena kosmologi yang berpasang-pasangan, seperti langit dan bumi , siang dan malam dan musim dingin dan musim panas, dunia dan akhirat , syurga dan neraka , alam gaib dan alam nyata . Yang lebih istimewa pasangan-pasangan makrokosmos ini mempunyai jumlah yang sama di dalam Al-Qur'an, meskipun masa turunnya Al-Qur'an berlangsung sekitar 23 tahun.

Kemahaesaan Tuhan dapat difahami melalui kenyataan bahwa seluruh makhluk Tuhan diciptakan berpasang-pasangan dan hanya Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya Dia yang tidak butuh pasangan. Dia Yang Esa, baik dalam Esensi maupun dalam sifat. Karena itu, Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan segala sesuatu, "Tiada sesuatu yang menyerupai-Nya" (Q.S.Al-Syura/42:11).

Pada makhluk biologis, setiap pasangan mempunyai hubungan fungsional, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Masing-masing pasangan mempunyai ketergantungan antara satu dengan yang lain. Demikian pula makhluk-makhluk alam lainnya. Untuk menyatakan adanya siang diperlukan adanya malam, sulit dimengerti adanya sinar terang tanpa adanya kegelapan. Musim dingin baru dapat dimengerti setelah adanya musim panas. Seseorang tidak akan pernah memahami secara mendalam arti sebuah kesehatan jika tidak pernah sakit. Pengecualian terjadi dalam hal Pencipta (Al-Khaliq) dan ciptaan-Nya (al-makhl­q). Makhluk sangat tergantung kepada Khaliqnya, tetapi tidak sebaliknya.

Tuhan tidak masuk dalam konsep azwaj, karena Tuhan adalah Maha Mandiri, sebaliknya seluruh makhluk-Nya tidak ada yang mandiri secara paripurna. Eksistensi setiap makhluk ditentukan oleh hubungan horizontalnya dengan pasangannya dan secara vertikal oleh khaliq-nya. Termasuk manusia dan binatang, keutuhannya terletak pada hubungan interaktifnya dengan pasangannya, laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina.

Dalam dunia tasawuf, konsep azwaj dikaji lebih mendalam. Menurut Nasafi, Tuhan Yang Maha Mandiri di mana segala sesuatu tergantung kepada-Nya , dianggap sebagai Zat Yang Wajib Wujudnya sementara makhluk-Nya disebut zat yang munkin wujudnya , karena keberadaannya sangat tergantung kepada kehendak-Nya dan keutuhan dan kelestariannya sangat tergantung kepada interaksi pasangannya. Dicontohkan langit dan bumi; langit memberi atau melimpahkan (al-faidl) dan bumi menerima atau menampung (istifadlah/. Menurut Jalaluddin Rumi, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Hubungan antara keduanya sebagaimana layaknya hubungan antara laki-laki dan perempuan, atau menurut Murata hubungan antara keduanya dapat diterangkan melalui hubungan yang dan ying dalam Taoisme.

Ibn 'Arabi juga memberikan pernyataan yang hampir sama. Langit diumpamakan dengan suami dan bumi diumpamakan dengan isteri dalam kehidupan rumah tangga. Jika langit menurunkan airnya kepada bumi maka akan lahirlah berbagai makhluk biologis seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang. Demikian pula halnya manusia, penurunan air (sperma) kepada perempuan menyebabkan tumbuhnya janin dalam rahim dan selanjutnya lahir sebagai manusia.

Dan Allah menjadikan bumi bagaikan isteri dan langit bagaikan suami.Langit membeikan kepada bumi sebagian dari perintah yang diwahyukan Tuhan, sebagaimana laki-laki memberikan air ke dalam diri perempuan melalui "hubungan suami-isteri". Ketika pemberian itu berlangsung, bumi mengeluarkan seluruh tingkatan benda-benda yang dilahirkan yang disembunyikan Tuhan di dalamnya.

Konsep perkawinan dalam pandangan sufi lebih luas dari pada sekedar apa yang dirumuskan dalam Fikih Perkawinan , yaitu peraturan perkawinan dan akibat-akibat hukum sebuah perkawinan. Kalangan sufi mengenal Perkawinan Makrokosmos (Macrocosmic Marriage), meliputi perkawinan hubungan-hubungan tertentu antara benda atau sifat yang berpasangan, seperti hujan mengawini tanah.

Komposisi ideal kualitas maskulin-feminin tergambar di balik 99 nama-Nya dalam Al-Asma` al-Husna, sebagaimana dapat di lihat sebagai berikut:

Kualitas Maskulin
1. Al-Jabbar (Yang Maha Pemaksa)
2. Al-Qawiy (Yang Maha Kuat)
3. Al-Muntaqim (Y.M. Penyiksa)
4. Al-Qahhar (Y.M.Menguasai)

Kualitas Feminin
1. Al-Rahim (Yang Maha Penyayang)
2. Al-Lathif (Y.M.Lembut)
3. Al-Gaf­r (Y.M.Pengampun)
4. Al-Hakim (Y.M.Bijaksana)

Orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan sifat-sifat maskulin Tuhan, akan didominasi rasa: aktif, progresif, kuasa, independen, jauh, dan dominan (struggeling). Sedangkan orang yang mengidentifikasi diri dengan sifat-sifat feminin Than akan didominasi rasa: pasrah, berserah diri, dekat, kasih dan pemelihara (nurturing).

Orang yang lebih menekankan aspek maskulinitas Tuhan, ia seringkali membayangkan Tuhan transenden, jauh, dan lebih memilih untuk menakuti-Nya. Sedangkan orang yang lebih menekankan aspek feminin Tuhan, ia membayangkan Tuhan immanen, dekat, dan lebih memilih untuk mencintai-Nya.

Sikap yang pertama akan memberikan efek seseorang harus hati-hati dalam berbuat, karena Tuhan itu Maha Adil (al-'Adl). Sedangkan yang kedua akan memberikan efek optimisme dalam menjalani kehidupan, karena Tuhan itu Maha Pemaaf (al-'Afuw).

Pendekatan pertama bisa melahirkan sikap formalisme beragama, karena membayangkan Tuhan itu Maha Penuh Perhitungan (al-Hasib). Sedangkan yang kedua bisa melahirkan sikap permissif dan seberono, karena membayangkan Tuhan Maha Penyayang (al-Rahman) dan Maha Pengampun (al-Gafur).

Yang ideal ialah seperti sabda Rasulullah: berakhlaklah sebagaimana akhlak Tuhan, yaitu kombinasi ideal antara kualitas maskulin dan kualitas feminin, seperti yang dicontohkan Rasulullah sebagai uswah al-Hasanah, yang "akhlaknya adalah Al-Qur'an".

Nama-nama indah Tuhan (al-asma` al-Husna) yang berjumlah 99 menurut hitungan ulama sunni, dapat dirangkai secara kronologis begitu indah ibarat seuntai tasbih. Dimulai dengan lafz al-jalalah, Allah, dengan angka 0 (nol), yang biasa dianggap angka kesempurnaan, disusul dengan al-Rahman (Yang Maha Pengasih), al-Rahim (Yang Maha Penyayang), dan seterusnya sampai ke angka 99, al-Shabr (Yang Maha Sabar) dan kembali lagi ke angka nol, Allah (lafz al-jalalah), atau kembali ke pembatas besar dalam untaian tasbih. Simbol angka nol berupa lingkaran atau titik, menggambarkan siklus kehidupan bagaikan sebuah cyrcle, bermula dan berakhir pada satu titik, atau menurut istilah Al-Qur`an: inna li Allah wa inna ilaih raji'un (kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Dalam perspektif tasawuf, nama-nama indah Tuhan bukan hanya menunjukkan sifat-sifat Tuhan, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga yang bersangkutan tetap bisa eksis kembali dan tidak perlu kehilangan semangat hidup. Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan?

Allah bukan hanya memiliki sifat-sifat maskulin ("The Father God"), tetapi juga memiliki, bahkan lebih dominan dengan sifat-sifat feminin ("The Mother God"). Ada kecenderungan di dalam masyarakat sifat-sifat maskulinitas Tuhan lebih ditonjolkan, seperti Tuhan Maha Besar (al-Kabir), Maha Perkasa (al-'Aziz), dan Maha Pembalas/Pendendam (al-Muntaqim), bukannya menonjolkan sifat-sifat femininitas-Nya, seperti Tuhan Maha Penyayang (al-Rahim), Maha Lembut (al-Lathif), dan Maha Pema'af (al-'Afuw), sehingga Tuhan lebih menonjol untuk ditakuti dari pada dicintai. Efek psikologis yang muncul karenanya, manusia menyembah dan sekaligus mengidealkan identifikasi diri dengan "The Father God", yang mengambil ciri dominan, kuasa, jauh, dan struggeling, bukannya dengan "The Mother God", yang mengabil ciri berserahdiri, kasih, dekat, dan nurturing. Idealnya, komposisi kualitas maskulin dan feminin menyatu di dalam diri manusia, sebagaimana halnya keutuhan kedua kualitas itu menyatu di dalam Diri Tuhan, seperti tercermin di dalam al-asma` al-Husna, dan sebagaimana juga dipraktekkan Rasulullah saw.

Allah swt, adalah Tuhan segala sesuatu, Tuhan makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia sebagai makhluk mikrokosmos merupakan bagian yang teramat kecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Ia bagaikan setitik air di tengah samudra. Bumi tempat ia hidup bagaikan sebuah titik di antara jutaan planet dalam galaksi bimasakti. Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khala`if al-ardl), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah swt, lebih menonjol sebagai Tuhan manusia dari pada Tuhan makrokosmos, karena pemahaman yang demikian dapat memicu egosentrisme manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan mengekploitasi alam raya sampai di luar amban daya dukungnya; bukannya bersahabat dan berdamai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan. Sepantasnya kita menyadari bahwa konsep al-asma` al-Husna adalah konsep alam semesta. Tuhan tidak hanya memperhatikan kepentingan manusia, atau Tuhan tidak hanya kepada manusia, sebagaimana kesan dan pemahaman sebagian orang terhadap konsep penundukan alam raya (taskhir) kepada manusia. Seolah-olah konsep taskhir adalah "SIM" untuk menaklukkan alam semesta. Padahal, konsep taskh³r sebenarnya bertujuan untuk merealisasikan eksistensi asal segala sesuatu itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Bijaksana (al-Hakim), yang mengacu kepada keseimbangan kosmis dan ekosistem.

Manusia yang paling berkualitas di mata Allah swt ialah yang paling bertaqwa (Q.S. Al-Hujurat/49:13), yaitu "orang-orang yang menafkahkan (hartanya), naik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) oraang" (Q.S.Ali 'Imran/3:133). Dari ayat ini difahami bahwa kualitas sejati di sisih Allah swt ialah orang-orang yang mengaktifkan komposisi kualitas maskulin dan feminin. Sikap seperti inilah yang akan melahirkan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian di dalam masyarakat.

Dalam menyukseskan kedua misi manusia di bumi, yaitu sebagai khalifah dan sebagai hamba ('abid), komposisi kedua sifat ini juga santa penting. Kualitas maskulin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai khalifah dan kualitas feminin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai abid. Namun, separasi ini tidak berarti pemisahan secara total, karena misi kekhalifahan hanya dijalankan dengan kualitas maskulin, maka kemungkinan besar yang akan terjadi ialah disrupsi dan kerusakan lingkungan alam dan lingkungan sosial, serta ketimpangan ekologis. Sebaliknya, mengeliminir kualitas maskulin dalam menjalankan misi manusia sebagai 'abid, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah fatalisme keagamaan, yakni kesalehan individual yang tidak membawa dampak ke dalam kehidupan sosial.

Idealnya, jika komposisi kedua kualitas ini menyatu dalam diri setiap orang, maka yang akan terjadi adalah kedamaian kosmopolit (rahmatan li al-'alam³n) di tingkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (baldah Thayyibah wa Rab al-Gafur) di tingkat mikrokosmos

Sumber : Ustat Nasaruddin Umar

Friday, December 14, 2012

Hakikat Permusuhan Dengan Siapakah?


Kerosakan demi kerosakan berlaku di dunia dan di dalam masyarakat manusia adalah suatu yang pasti akan berlaku. Lihatlah darah umat Islam tidak lagi berharga bahkan darah seekor harimau lebih berharga dan penting bagi manusia. Pembunuhan demi pembunuhan berlaku di atas tujuan keamanan dan kebebasan yang dianjurkan oleh kuasa barat atau kuasa kafir. Keruntuhan akhlak dan budaya Islam juga berlaku satu persatu adalah lambang permusuhan yang akan berlaku sehingga kiamat di antara azazil dan manusia.


Tahukah kita siapa sebenar musuh kita? Tahukah kita siapa yang menyusun atur pembunuhan umat manusia dari segi fizikal, mental dan akidah? Tahukah kita siapa yang menjadi ‘tok dalang’ untuk konspirasi membawa semua manusia (keturunan Adam) kembali kepada alam akhirat bersamanya dalam neraka Jahanam? Tahukah kita siapa proksi-proksi yang dijadikan azazil untuk membawa mesej dan ‘menyihirkan’ umat manusia agar bersamanya ke dalam neraka?

Keimanan vs kekufuran, cahaya vs kegelapan, mahmudah vs mazmumah dan haq vs batil adalah perkara yang akan berterusan berlaku ke atas umat manusia. Siapa memilih keimanan maka ia telah memilih cahaya Allah melalui Nabi-nabi dan Rasul-rasul dan sesiapa yang memilih kekufuran maka ia telah memilih kegelapan melalui jalan iblis atau syaitan.

Permusuhan awal yang berlaku adalah di antara Azazil dan Nabi Adam A.S. Kita wajib memahami bahawa ‘permusuhan’ ini akan berlaku sehingga ke hari kiamat. Renungi dan fahami akan
Firman Allah swt yang bermaksud;
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya".[Al-Baqarah 30]

Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: "Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam". Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir. [Al-Baqarah 34]

Dan kami berfirman: "Wahai Adam! Tinggalah engkau dan isterimu dalam syurga, dan makanlah dari makanannya sepuas-puasnya apa sahaja kamu berdua sukai, dan janganlah kamu hampiri pokok ini; (jika kamu menghampirinya) maka akan menjadilah kamu dari golongan orang-orang yang zalim". [Al-Baqarah 35]

Setelah itu maka Syaitan menggelincirkan mereka berdua dari syurga itu dan menyebabkan mereka dikeluarkan dari nikmat yang mereka telah berada di dalamnya dan Kami berfirman:
"Turunlah kamu! Sebahagian dari kamu menjadi musuh kepada sebahagian yang lain dan bagi kamu semua disediakan tempat kediaman di bumi, serta mendapat kesenangan hingga ke suatu masa (mati)".
 [Al-Baqarah 36]
Kami berfirman lagi: "Turunlah kamu semuanya dari syurga itu! Kemudian jika datang kepada kamu petunjuk dariKu (melalui Rasul-rasul dan Kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka), maka sesiapa yang mengikuti petunjukKu itu nescaya tidak ada kebimbangan (dari sesuatu yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacita".[Al-Baqarah 38]
Kenali siapa musuh
Sebenarnya makhluk yang bernama Azazil inilah musuh kita yang sebenarnya. Diberi nama Iblis kerana keingkaran dia untuk mematuhi perintah Allah. Permusuhan dan kedengkian Iblis bermula setelah Allah mengkafirkan dan menghalau dia dari Syurga. Semua makhluk ciptaan Allah adalah berasal dari Syurga. Lantaran keangkuhan dan kesombongan Iblis maka dikeluarkan Iblis dari syurga dan begitu juga terkeluarnya Nabi Adam AS bersama Hawa dari syurga disebabkan terpengaruhnya baginda dan isteri dengan bisikan Iblis yang penuh tipu daya.

Setelah nabi Adam as dan Hawa terkeluar dari Syurga, maka hiduplah mereka berdua di bumi. Setelah itu, bermulalah kelahiran zuriat dan keturunan nabi Adam. Iblis juga telah berjanji dan meminta izin di hadapan Allah akan mengajak dan menyesatkan keturunan Adam as sehingga ke hari kiamat. Allah membenarkan janji Iblis dan memberi tempoh kepada Iblis serta juga memberi peringatan bahawa Iblis tidak akan dapat mengajak hamba-Nya yang ikhlas dalam mentaati Allah.
Oleh yang demikian, pembunuhan pertama yang berlaku di dunia ini adalah di antara Habil dan Qabil. Perbalahan adalah disebabkan nafsu yang mencintai wanita. Wanita telah menjadi ‘asset’ untuk Iblis membuat Qabil membunuh saudaranya iaitu Habil. Ini adalah sejarah dan fakta yang perlu kita fahami dan ketahui. Pembunuhan bermula di sini dan ianya akan berlaku sehingga ke hari kiamat. Apakah punca pembunuhan ini berlaku sehingga ke hari kiamat? Iblis menjadikan dunia ini seperti ‘syurga’ melalui proksi-proksi yang telah disusun atur dengan cara yang amat berstrategi dan rapi. Kerosakan dan pembunuhan ini terus berlaku dari umat nabi terdahulu sampai munculnya Nabi Muhammad saw.
Peperangan yang dijalankan

Kita dapat melihat keadaan dunia hari ini, kerosakan yang berlaku dari segi mental, fizikal dan rohani. Serangan berlaku di mana-mana ke atas umat manusia dan orang Islam. Mereka telah menguasai sistem hidup manusia. Dari segi mental, umat Islam dijajah pemikirannya dengan pelbagai fahaman yang bertentangan dengan pemikiran nabi saw. Dari segi kuasa ketenteraan, umat Islam dibunuh dengan begitu mudah lantaran kuasa politik hanya ada pada ‘nama’ tetapi hakikat tiada berkuasa sedikit pun. Pemerintahan pun mengikut acuan mereka. Penyembahan manusia hari ini adalah kepada dunia. Mereka mengajar dan mendidik manusia mencintai dunia dan tertipu dengan ilmu teknologi yang canggih dan hebat. Siapakah yang mencipta Piramid? Terfikirkah kita bagaimana mereka menciptakan? Apakah teknologi yang mereka gunakan?.Dari segi sosial, wanita dijadikan simbol seks dan diberi hak kebebasan dan kesamarataan seperti kaum lelaki sehingga mereka mudah bergaul dengan lelaki dan mudah melakukan seks di luar perkahwinan dan juga seks di luar tabii. Dari segi pendidikan, mereka membuat silibus yang menyebabkan umat manusia bergantung hidup dengan sekeping sijil. Tanpa sijil kita akan nampak hina dan rezeki kita akan tiada. Hilang dalam batin umat Islam bahawa rezeki itu adalah daripada Allah swt. Diwujudkan pangkat-pangkat tertentu supaya manusia terpesona dengan pangkat dan tahap sijil masing-masing. Dari segi ekonomi, mereka menyusun dan memperhebatkan sistem riba yang diharamkan oleh Allah swt dan juga sistem baru yang menindas kaum yang miskin dan lemah. Dengan sistem-sistem ini, orang kaya bertambah kaya dan orang miskin bertambah miskin. Hutang berterusan sampai ke mati. Dari segi sistem permakanan dan peniduran (rehat), mereka telah menyebarkan satu sistem pemakanan dan tidur yang berjadual sehinggakan umat Islam menghabiskan masa hanya untuk makan dan tidur. Sistem permakanan dan tidur yang bertentangan sama sekali dengan cara makan dan tidur Nabi saw. Dengan cara pemakanan dan tidur yang tidak mengikut sistem ajaran Nabi saw, maka kita tidak akan berbau untuk mengikut jejak langkah nabi saw yang dapat ‘bangun malam’ untuk berkhalwat dengan Allah. Dari segi tauhid, ini yang paling dahsyat sekali ialah pembunuhan dan pemyembelihan ‘akidah’ umat Islam. Mereka mengajak umat manusia mensyirikkan Allah swt. Syirik Akbar (besar) dan syirik Khofi (tersembunyi). Tiada siapa yang memahami akan pemyembelihan akidah umat Islam kecuali alim ulama yang haq. Mati dalam keadaan beriman atau pun tidak. Mati dalam mengenali Allah atau pun tidak. Mati dalam ketauhidan atau pun tidak. Inilah yang dibawa nabi-nabi dan rasul-rasul iaitu ketauhidan kepada Allah. Menyeru menyembah Allah bukan menyembah Iblis (syaitan).

Musuh umat Islam yang terkenal ialah Yahudi danNasrani. Sebenarnya mereka adalah proksi Iblis.Mereka dijadikan oleh Iblis sebagai alat untuk membunuh umat manusia dan orang-orang Islam. Mereka telah menandatangani perjanjian dengan Iblis untuk membantu menyesatkan Umat Islam yang bertauhidkan Allah swt. Iblis telah melantik secara rasminya manusia yang diberi gelaran ‘Dajjal’ untukmenguasai alam zahiri (sistem dunia) dan ‘Syaitan’atau Azazil menguasai alam batin (wilayah alam ghaib). Pusat pemerintahan (ibu pejabat) mereka adalah di ‘Segitiga Bermuda’.

Dajjal adalah manusia yang dilantik oleh Iblis semasa di zaman Nabi Musa as. Beliau bernama Musa Asamiri. Ketika itu, Pemerintah Firaun telah menjalani operasi membunuh anak-anak lelaki kerana beliau mendapat maklumat akan lahir lelaki yang akan menentang beliau. Musa asamiri dibela dan dibesarkan oleh Malaikat Jibril. Musa asamiri telah disusui oleh Malaikat Jibril melalui hujung jari tangan Jibril. Musa asamiri mempunyai beberapa kelebihan sehingga Azazil telah memperdaya dan mempengaruhi Musa Asamiri dengan mengajar ilmu yang hebat. Kelebihan beliau itu menyebabkan beliau hidup ke saat ini. Semasa Nabi Musa as beruzlah (berkhalwat dengan Allah), Musa Asamiri telah memperdayakan kaum Nabi Musa as dengan menjadikan anak lembu boleh bercakap. Anak lembu itu boleh bercakap dengan cara Musa Asamiri telah memasukkan debu-debu tapak kaki Jibril ke dalam badan anak lembu. Maka hasilnya, Musa Asamiri mengatakan anak lembu itu sebagai Tuhan. Maka sesat dan kufurlah pengikut nabi Musa ketika itu. Setelah Nabi Musa pulang dari beruzlah, maka terkejutlah baginda dengan umatnya dan pada masa yang sama Musa Asamiri telah lari dan menyembunyikan diri daripada Nabi Musa as.

Gerakan penyelamat 

Seterusnya berlakulah penyelewengan tauhid yang berterusan oleh Azazil dan Dajjal ke atas umat Nabi sehingga keluarnya penyudah Nabi Muhammad saw. Setelah kelahiran Nabi Muhammad saw, maka azazil dan bala tenteranya menjadi lemah. Cahaya Nabi saw telah menyebabkan umat manusia tidak lagi ditipu oleh cahaya kekufuran Azazil. Sehinggakan kelahiran Nabi saw juga telah dihidu oleh azazil tetapi Allah telah memelihara baginda Nabi saw daripada di bunuh oleh proksi azazil. Setelah umat Nabi saw telah bercahaya dengan cahaya yang dibawa oleh baginda Nabi saw, maka umat manusia menjadi umat yang bertauhid kepada Allah swt. Gerakan penyelamat oleh Nabi saw, para sahabat ra dan para khulafa Al rasyidin telah menjadikan umatnya menyembah hanya kepada Allah secara total dan Islam. Seterusnya sistem Islam berkembang ke seluruh dunia. Islam telah memerintah dunia. Perjuangan ini seterusnya disambung oleh para ulama salafusoleh serta pewarisnya di kalangan ulama akhirat sehingga kemunculan ‘Iman Al Mahdi’.

Kewafatan Nabi Muhammad saw telah menyebabkan kuasa Iblis/Azazil dan Dajjal telah kembali menjadi kuat sehingga umat Islam telah dikuasai dan diselewengkan kembali kepada ajaran Azazil. Setelah itu,umat manusia kembali menjadi kafir, munafik, fasiq dan zindiq sehingga ke hari ini.

Untuk kembali kepada ajaran Nabi Muhammad saw dan para salafusoleh, maka kita wajib bersama dengan para pewaris ilmu dan cahaya Nabi saw. Mereka ialah ulama akhirat, ulama yang haq. Mereka telah menyusun manhaj ilmu kepada masyarakat agar umat manusia tidak berterusan dalam jajahan azazil dan dajjal. Ulama telah mengajak kepada nilai asas iaitu ilmu pelajaran yang bersifat tradisional.

1) Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) aliran Asya’irah dan AL-Maturidiah
2) Fiqh berpegang kepada Mazhab Asy-Shafei (tanpa meninggalkan mazhab-mazhab yang lain dikalangan ASWJ)
3) Tasawwuf aliran Imam Al-Ghazali,Syeikh Junaid Al-Baghdadi dan Imam Abu Hassan Asy-Syazili
4) Sulukiah Rohaniah aliran tarekah-tarekah muktabar
5) Ketamadunan aliran ibnu Khaldun
6) Pengajian bersanad (ada salsilah ilmu dari guru ke guru sehingga ke Nabi saw) 


Mengikuti akhlak Nabi Muhammad saw




Tiada cara lain untuk kembalikan cahaya Nabi saw melainkan kita kembalikan diri kita kepada cara hidup Nabi saw. Sunnah Nabi saw adalah ubat paling mujarab untuk melawan musuh nombor satu kita. Siapa dapat mengamalkan sunnah nabi saw, maka ia berada di dalam cahaya Allah melalui sunnah Nabi saw. Siapa yang meninggalkan sunnah Nabi saw, maka ia berada dalam kegelapan, zulumat, dan kekufuran melalui amalan cara yang diajar oleh azazil/iblis/dajjal. Di antara Akhlak Nabi saw yang perlu kita amalkan ialah;

1) Akhlak Syariat : Wara’ dan Istiqomah2) Akhlak Batin : Tawaduk, Redha, Cinta Akhirat3) Akhlak Tauhid: Tawakal, Yakin4) Akhlak Ihsan : Asyik Muraqabah dan Musyahadah

Inilah akhlak Nabi saw yang telah ditunjukkan oleh baginda Nabi saw kepada umatnya. Manusia manakah lagi yang perlu kita ikuti dan sanjungi? Nabi saw atau Azazil? Cahaya atau kegelapan? Iman atau kafir? Renung dan muhasabahlah diri masing-masing.

5 Dasar-Dasar Untuk Keluar Daripada ‘KEGELAPAN’

Di sini ulama yang haq telah mengariskan beberapa dasar sebagai tambahan untuk kita keluar daripada ‘kegelapan’ atau menjadi pengikut atau pendokong Azazil dan Dajjal.

1) Gabungan Tradisi dan Moden (dari segi cara/method/keilmuan)
2) Mahabbah (cinta) pada Rasulullah saw dengan mengikut akhlak Nabi saw
3) Menghormati perbezaan pendapat, menjauhi mengkritik dan berlapang dada
4) Mencintai Kebahagiaan Akhirat yang lebih baik dan kekal tanpa melupai kebahagian dunia
5) Tafakur fil Quran (baca, faham dan fikir akan isi Quran)

Wasilah (Jalan) Menuju Cahaya

1) Ilmu fardu’ain (tauhid ,fekah dan tasawwuf)
2) Mengubah taiat buruk zahir dan batin
3) Mengubah tabiat makan
4) Mengamalkan zikir lisan, hati, lathaif dan seluruh jasad
5) Mematikan diri dalam solat
6) Cinta dengan perbanyakkan selawat kepada Nabi saw
7) Berdakwah
8) Mengamalkan muraqabah dan musyahadah
9) Bersama dengan ulama akhirat
10) Bergantung diri dengan Allah secara penuh dan bulat
11) Menenangkan akal dan hati dengan ikhlas, sabar, redha, syukur dan bersangka baik

InsyaAllah, melalui jalan dan petunjuk dari ulama yang haq di mana garis-garis dasar dan panduan yang telah dibentangkan kepada kita ini, membolehkan kita dapat pegang dan mengamalkanya sehingga kemunculan pimpinan Agung kita iaitu Imam Al-Mahdi. Siapakah yang akan mengenali Al Imam ini? Hanya guru mursyid yang diberi ilmu oleh Allah sahaja akan mengetahuinya. Guru ini akan menceritakan ciri-ciri atau karakter al-Imam ini kepada murid-muridnya. Bagi mereka yang tiada guru, berusahalah mencarinya agar aqidah kita mantap dengan tipudaya Azazil dan Dajjal.

Semoga dengan berkat amalan-amalan ini, maka kita semua berada di dalam cahaya Nabi saw. Siapa berada bersama cahaya Nabi saw maka dia bersama cahaya Allah swt. Siapa mengambil sebaliknya maka dia akan menjadi teman bersama Iblis untuk ke neraka. Wanauzubillah. Tujuan Iblis adalah untuk mengajak seramai mungkin umat manusia (keturunan Adam as) bersama-samanya di dalam neraka. Justeru itu, berhati-hatilah kita, kenali siapa musuh sebenar kita, jangan kita membuang masa dengan perkara yang kecil yang tiada memberi manfaat sedikit pun untuk diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, umat Islam keseluruhannya.....
Wallahu'alam>>>sumber

Kepentingan Ilmu Tasawwuf

Pengenalan tentang Tuhan diatas landasan ilmu semata-mata belum menjamin keselamatan (dalam) kesempurnaan makrifat. Ia bagaikan pengenalan tentang Kaabah tetapi diri belum sampai kepada Kaabah yang sebenarnya. Apa yang ada ditangan hanya maklumat dan gambar bukannya hakikatnya. Bicara KeTuhanan tidak boleh hanya pada lisan dan akal. Demi untuk keselamatan akhirat, seharusnya kita terjun dan menyelami lautan KeTuhanan yang dalam melalui jalan para ahli sufi, jalan ahli tasawuf.



Berkata Imam al-Ghazali :
“Aku menyeberangi lautan fekah, aku sampai ke seberang, aku menyelami lautan tauhid, aku sampai ke seberang, aku menyeberangi lautan falsafah, aku sampai ke seberangnya, (tetapi) apabila aku menyeberangi lautan tasawuf, aku tenggelam dalam lautannya tanpa penghujung. 

Sesungguhnya kepentingan mendalami lautan tauhid melalui jalan tasawuf amatlah ditekan oleh para ulama yang telah mengecapi hasilnya.



Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : “
Wahai Rasululah, apakah amal yang lebih afdhal?”
Rasulullah SAW menjawab : ”
Mengenal Allah azza Wa Jalla…”.
Mereka bertanya lagi : “
Apakah segala amal yang lebih pahalanya…?”
Rasulullah SAW menjawab : ”
Mengenal Allah Azza Wa Jalla…”.
Sahabat tersebut bertanya lagi : ”
Ya Rasulullah, kami bertanya tentang amal, mengapa tuan menjawab dengan ilmu…?” 
Rasululah SAW bersabda : ”
Bahawa sedikit amal dengan mengenal Allah adalah lebih baik daripada banyak amal tetapi tidak mengenal Allah. Kerana amal yang seperti itu tidak bermanfaat”.

Imam al-Ghazali menyatakan dalam kitab beliau ‘Jawahir al-Quran’ : “
Bahawasanya ilmu tariqah dan suluk yang dinamakan dengan ilmu tasawuf itu adalah lebih tinggi dan lebih mulia daripada ilmu fiqh dan ilmu kalam, dan yang lebih tinggi daripada semuanya itu adalah ilmu makrifat yang dinamakan juga ilmu hakikat”.

Ilmu tariqah dan suluk itu adalah jalan bagi mengetahui ilmu hakikat, yang dinamakan dengan “ilm al-Nafi’, yakni ilmu yang memberi manfaat di akhirat kelak. Selain itu juga dinamakan dengan ilmu tasawuf sebagaimana yang akan dihuraikan kelak pada bahagian lain dalam kitab ini.

Al-‘Arif Billah al-Sayid ‘Abd Allah ibn ‘Alawi al-Haddad, di dalam kitab beliau yang berjudul ‘Kitab al-Ilmiah wa Usul al-Hikmah’, menyatakan sebagai berikut :
“Kemudian daripada itu, apabila engkau tilik kepada karangan Aimmat al-Din, yakni ulama ahli tasawuf daripada segala kitab yang memberi manfaat pada agama dia akhirat kelak, nescaya tiada engkau lihat sebuah kitab pun yang lebih menghimpunkan sebagai ilmu yang memberi manfaat itu daripada segala kitab yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, seperti ‘Ihya ‘Ulum al-Din’, ‘Arba’in al-Ushul’, ‘Minhaj al-‘Abidin’, ‘Bidayat al-Hidayah’.”

“Semua kitab ini telah dikenal oleh orang-orang al-Haqq dan al-Inshaf, yakni orang yang adil dan mempunyai mata hati di dalam agama, tidak ada yang akan mengingkarinya melainkan orang-orang yang dungu lagi jahil, atau orang yang tergolong kepada ulama zahir yang telah memperdayakan dirinya dan lalai daripada kembali kepada jalan kebenaran. Mudah-mudahan Allah Taala memberi ilham akan kami dengan petunjukNya dan memelihara kami daripada kejahatan diri kami sendiri dan kejahatan amal kami. Sesungguhnya tiada daya menjauhi maksiat dan tiada upaya melakukan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah Taala”.

Syaikh Ibn ‘Ibad menukilkan di dalam kitab beliau Syarah Hikam daripada Ibn ‘Athaillah, katanya :
Ketahuilah olehmu, bahawasanya yang dimaksudkan dengan kelebihan ilmu yang dinyatakan secara berulang-ulang di dalam al-Quran dan As-Sunnah ialah ilmu yang memberi manfaat yang disertai dengan perasaan takut kepada Allah, serta dilengkapi dengan kegerunan kepada Allah dan firmanNya. Adapun yang takut kepada Allah itu hanyalah dari kalangan ulama, takut itu melazimkan akan ilmu”.

Dalam kitab Sirras Salikin disebut :
 “Adapun yang dimaksudkan dengan ilmu itu sebagaimana yang diutarakan di atas, yakni ilmu yang tersebut di dalam al-Quran dan As-Sunnah ialah ilmu yang memberi manfaat pada agama akhirat kelak, ilmu-ilmu tersebut telah dinukilkan oleh Imam al-Ghazali di dalam kitab-kitab beliau seperti Minhajul ‘Abidin dan lain-lainnya. Demikian juga segala ilmu tasawuf itu adalah ilmu yang memberi manfaat di dunia dan akhirat kerana ilmu tasawuf sekarang terhimpun di dalam ilmu usuluddin, ilmu fiqh dan ilmu tariqah sebagaimana yang tersebut di dalam kitab ini dan kitab mukhtashar ihya’ ulum al-Din dan lain-lainnya daripada beberapa kitab ilmu tasawuf yang memperkatakan ilmu suluk dan ilmu tariqah.”

Oleh yang demikian, al-Sayid Syaikh Abu al-Hassan al- Syadzili mengatakan :
“Barangsiapa yang tiada masuk dan mengetahui akan ilmu ini, yakni ilmu tasawuf nescaya ia mati dalam keadaan mengekalkan dosa-dosa tanpa diketahuinya”.

Sehubungan dengan itu, Syaikh Ibn ‘Ibad menyatakan di dalam kitab beliau Syarah Hikam sebagai tersebut :
“Dan segala ilmu ini, yakni ilmu tasawuf, sepatutnya manusia meleburkan diri di dalam menuntutnya sepanjang usianya, dan janganlah ia memadai dengan banyak atau sedikitnya. Manakala ilmu yang lain daripada ilmu tasawuf, adakalanya tidak diperlukan di dalam kehidupan dan adakalanya ia memberi mudharat kepada orang yang memilikinya, jika ia berterusan mendalami ilmu itu. Rasulullah SAW telah bermohon kepada Allah agar dijauhkan daripada ilmu yang tidak bermanfaat, baginda bersabda : ‘Kami berlindung kepada Allah daripada ilmu yang tidak bermanfaat’.”

Selanjutnya Syaikh Ibnu ‘Ibad mengatakan :
“Ketahuilah olehmu, bahawasanya telah termaktub dengan banyaknya di dalam al-Quran dan As-Sunnah yang menyatakan kelebihan ilmu dan ulama dengan tidak terhingga. Dan tidaklah diharapkan kelebihan yang demikian itu melainkan oleh orang-orang yang lurus niatnya. Dan tiada lain tujuannya menuntut ilmu selain daripada semata-mata mengharapkan keredhaan Ilahi, dan untuk mengamalkannya dan kerana hendak keluar daripada kejahilan kepada cahaya. Inilah yang dikatakan sebagai niat yang lurus, yang akan diberi penilaian oleh Allah di akhirat kelak dan memperolehi faedahnya di dunia dalam melakukan ibadah. Maksudnya disegerakan faedah ilmu di dunia dengan berbuat ibadah dan ditangguhkan faedahnya pada hari akhirat kelak dengan beberapa pahala”.

Demikian juga segala kitab Ilmu Tasawuf yang tertera di dalamnya adalah ilmu yang memberi manfaat, kerana dalam kitab tasawuf itu telah terkandung ilmu usuluddin dan ilmu fiqh yang fardhu ‘ain, yang perlu diketahui oleh orang yang suluk, yakni orang yang menjalani jalan akhirat yang menyampaikan ke dalam syurga dan meyampaikan kepada makrifat akan Allah dengan mengetahui sebenar-benarnya perkara yang mendatangkan perasaan takut kepada Allah.

Oleh yang demikian, Imam Malik rahimahuLlah pernah berkata :
“Barangsiapa yang menuntut ilmu tasawuf dan tiada mengetahui ilmu fiqh yang fardhu ‘ain, maka sesungguhnya jadi zindiqlah dia, dan barangsiapa yang menuntut ilmu fiqh tapi dia tidak menuntut ilmu tasawuf, maka sesungguhnya jadi fasiqlah dia dan barang siapa yang menghimpunkan kedua-duanya maka jadilah dia ulama yang muhaqqiq yang mengenal Allah, dan merekalah yang bernama ulama sufi yang menghimpunkan antara syariat, tariqah dan hakikat.”

Adapun segala kitab Imam al-Ghazali yang dinukilkan di atas, telah terhimpun di dalamnya ilmu usuluddin (I’tiqad) dan ilmu fiqah (ibadat) serta adat. Selanjutnya ilmu tasawuf itu dinamakan dengan ilmu batin yang keseluruhannya dinamakan dengan ilmu suluk dan ilmu tariqah seperti yang akan dihuraikan pada bahagian lain di dalam kitab ini. Insya Allah. Itulah yang dinamakan ilmu yang memberi manfaat di alam akhirat kelak. Ia juga dinamakan dengan ilmu taqwa yakni suatu ilmu yang diperintahkan oleh Allah untuk menuntutnya, untuk dijadikan bekalan menuju akhirat sebagaimana firmanNya yang berbunyi :
“Dan hendaklah kamu mencari perbekalan, maka sesungguhnya perbekalan yang paling baik adalah taqwa”. (Al-Baqarah : 107)

Seseorang itu tidak akan pernah takut kepada Allah melainkan dengan mengetahui segala ilmu, sebagaimana yang termaktub di dalam al-Quran bahawa Allah Taala berfirman :
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah itu dari kalangan hambaNya ialah para ulama”. (Faathir : 28)

Adapun yang dimaksudkan dengan ulama itu ialah ulama yang menjalani jalan tasawuf sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh ‘Ibad sebelum ini.

Adapun ilmu yang menghimpunkan segala cabang ilmu Islam itu dinamakan dengan ilmu tasawuf yang hakiki. Oleh yang demikian maka barangsiapa yang tiada menceburkan dirinya untuk menuntut ilmu tasawuf maka adalah sebagai pertanda bahawa orang tersebut adalah orang yang kurang imannya, kurang akalnya dan kurang agamanya”.

Demikianlah dijelaskan oleh Syaikh Husain ibn Abdullah di dalam kitabnya tersebut. Sehubungan dengan itu, sepatutnya orang yang mengingini kemenangan di akhirat itu menuntut ilmu tasawuf dan mengajarkannya seperti orang-orang yang menuntut dan mengajarkan ilmu-ilmu yang lainnya. Kerana barangsiapa yang menuntut ilmu tasawuf itu nescaya ia lebih kaya daripada ilmu-ilmu yang lainnya. Adapun ilmu-ilmu selain ilmu tasawuf itu tidaklah lebih utama daripada ilmu tasawuf walaupun orang tersebut dikenal sebesar-besar ulama.

Syaikh Waliyullah yang amat besar Sayyid al-Syaikh Ibrahim al-Dusuqi berkata :
 “Adapun menuntut ilmu tariqah, yakni ilmu tasawuf wajib hukumnya bagi tiap-tiap murid yakni setiap orang yang menjalani akan jalan akhirat yang mengingini kemenangan di alam akhirat, walaupun ia sebesar-besar ulama pada bidang pengetahuan yang lain daripada ilmu tasawuf ini”.

Sehubungan dengan itu, para ahli sufi mengatakan :
“Setiap ahli sufi itu adalah faqih dan bukanlah setiap faqih itu ahli sufi”.

Ini adalah kerana setiap ahli sufi (yang benar-benar ahli sufi) itu memiliki pengetahuan yang mendalam dalam bidang fiqh dan tidak semestinya setiap ulama yang mahir di bidang fiqh itu mengetahui ilmu tasawuf. Kerana ilmu fiqh itu diumpamakan oleh ulama seperti kulit kelapa bahagian luar, manakala ilmu tasawuf (tariqah) bagaikan kulit kelapa bahagian dalam (tempurung) manakala ilmu hakikat adalah bagaikan isinya. Bahkan lebih jauh lagi dapat dikatakan bahawa ilmu fiqh itu bagaikan kulit kelapa, ilmu tasawuf itu bagaikan isinya sedangkan ilmu hakikat itu adalah seumpama minyaknya.


Ilmu yang lain dari ilmu tauhid dan tasawuf adalah 
menjadi hujah kepada manusia sedangkan ilmu tauhid dan kebersihan jiwalah yang akan menjadi kebenaranmu disisi Tuhan.

Firman Allah :
“Dan (orang-orang yang beriman kepada Allah), kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukannya juga dengan yang lain.”(Yusuf :106)

Makrifat para ahli sufi atau Al-Khossah terhasil secara zauqi melalui Tajribah Al-Sufiyyah. Dalam perkataan lain zauqi atau kecapan terhadap pelbagai pengertian makrifat diperolehi secara langsung hasil tajalli di dalam hati (Qalbu) mereka. Mereka yang mengalaminya menjadi tenggelam dan fana’ daripada dirinya sendiri dan daripada segala sesuatu selain daripada Allah. Oleh itu apa yang tersyuhud kepadanya cumalah Allah sahaja. Kesedaran dan perasaannya dilimpahi dengan Qudrah Ilahi yang terlihat pada sesuatu, dengan Iradah Ilahi yang melaksana segala sesuatu; juga dengan perbuatan Ilahi yang kenyataannya dapat dilihat pada gerak dan diamnya segala yang wujud di alam ini. Inilah yang dinukilkan oleh Syaikh ibnu ‘Athaillah dalam Syarah Al-Hikam :
Bagaimanakah Ia dapat dihijab oleh sesuatu sedangkan Ia yang menzahirkan segala sesuatu.
Bagaimanakah akan mungkin akan dihijab oleh sesuatu padahal Ia lebih jelas dari sesuatu.
”Bagaimanakah mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Ia yang Esa yang tidak ada disampingNya sesuatu apapun.
“Bagaimanakah akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal andaikan tidak ada Allah, nescaya tidak akan ada segala sesuatu.

Inilah lautan makrifat Ahli Sufi, makrifat yang ada didalam qalbu mereka tidak boleh difahami oleh kebanyakan orang awam, oleh para ahli ilmu kalam. Makrifat mereka adalah melalui penghayatan jiwa yang berjelira, memperkayakan pengalaman keruhanian mereka sehinggakan membuahkan makrifat yang kehalusannya sukar difahami oleh pandangan biasa yang tumpul.

Inilah apa yang dikatakan oleh Al-Tahanawi bahawa orang yang mengalami makrifat melalui jalan kesufian, mereka melihat setiap zat, pelbagai sifat dan pelbagai perbuatan, tenggelam hapus dalam pancaran cahaya Zat Allah, pelbagai Sifat KesempurnaanNya dan PerbuatanNya.

Syaikh Al-Junaid mengatakan :
"... daripada makrifat ahli sufi, ia wujud tanpa kemahuan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan melihat tadbiran Allah terus atas dirinya, ia melihat Allah dalam QudrahNya menentukannya. Dan dia menjadi tenggelam dalam lautan kesatuan Allah, benar-benar fana’ daripada dirinya dan daripada seruan Allah kepadanya serta daripada jawapannya kepada Allah, iaitu merupakan satu kenyataan yang sejati terhadap Wahdaniyyah Allah dalam kehampirannya yang sejati dengan Allah. Lalu kesedaran dan aksinya menjadi hilang kerana Allah melaksanakan di dalam dirinya apa yang diKehendaki olehNya. Ilmu tentang hal yang demikian diperolehi apabila telah kembalilah seseorang hamba dari akhir ke awalnya, supaya ianya menjadi sebagaimana semula; iaitu sebelum ia menjadi seperti sekarang. Dalil dalam hal ini ialah firman Allah :
"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan Zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil Ia bertanya dengan firmanya-Nya): ‘Bukankah Aku Tuhan kamu?’ Mereka semua menjawab, ‘Benar …’." (al-‘Araf :172)

Mendalami lautan Ilmu KeTuhanan melalui jalan ahli sufi adalah yang bersih dan sempurna, ia mempelajari tentang Tuhannya dengan Tuhannya sendiri. Ia memperolehi melalui jalan tajalli ke dalam qalbinya.

Dalam kitab Siraj Tholibin Syaikh Al-Junaid berkata :
“Tidak ada yang (dapat) mengenal Allah kecuali Allah sendiri.”

Telah berkata Abu Bakar r.a, pada sebahagian khutbah beliau di atas mimbar :
“Segala puja-puji hanya untuk Allah yang tidak pernah menciptakan jalan apapun bagi makhluk untuk makrifat kepadaNya kecuali (makhluk itu sendiri) dapat merasakan kelemahan untuk makrifat kepadaNya.”

Siapakah yang lebih mengetahui tentang diriNya melainkan diriNya. Akal amat terbatas dalam mengenal Tuhannya, namun disana dalam diri insan, insan memiliki ruh yang memiliki kekuatan untuk menangkap rahsia Tuhannya yang tak mampu difahami oleh akal. Ia sudah makrifat dengan Tuhannya sebelum ia berada dalam jasad ini, ia memiliki keistimewaan yang hebat mengatasi makhlukNya lain. Namun kebanyakan ruh ini telah lupa akan asalnya apabila berada di alam ini, sehingga ia diselaputi hijab-hijab yang tebal antara ia dengan Tuhannya. Ini disebabkan dosa-dosa yang dilakukan, terhijab dengan jasad kasar yang dicipta dari tanah, terhijab dengan dunia yang diperlihat indah, terhijab dengan makhluk disekelilingnya. Ia menjadi lupa asalnya, ia menjadi jahil, menjadi buta, menjadi pekak, menjadi bisu, ia tidak kenal dirinya siapa, ia hidup bertuhankan hawa nafsu dan syaitan, syaitan membawa ia kepada neraka kegelapan ketuhanan.

Berkata syaikh Al Junaid :
“Ruhnya perlu dikembalikan kembali ke alam asalnya, kepada sifat kesucian asalnya…” 

dan tiada jalan lain untuk mengembalikan kesedaran ruh ini melainkan melalui jalan tariqah para ahli sufi. Apabila ruhnya suci, ia akan mengenal Tuhannya kembali dengan jalan limpahan yang berlaku kedalam qalbinya.

Mempelajari ilmu makrifat adalah amat penting. Ulama Tasawuf menghukumkan “
fardu ain” untuk setiap mukallaf mempelajari atau menuntut secara “ijmali” (global/pokok) dan “fardu kifayah” mempelajarinya secara “tafsili” (terperinci).

Syed Amin Al-Kurdi menegaskan :
“Ketahuilah bahawa pengenalan diri adalah suatu urusan yang penting untuk setiap peribadi. Kerana sesungguhnya siapa yang mengenal dirinya, nescaya ia dapat mengenal Tuhannya. Yaitu mengenal dirinya yang hina, lemah serta fana’. Dengan itu, dia dapat mengenal Tuhannya yang bersifat mulia, kuasa dan kekal abadi. Siapa yang jahil terhadap dirinya bererti dia jahil terhadap Tuhannya”. (Tanw. Qulub : ms 464)

“Amal soleh yang dilakukan tanpa makrifat kepada Allah akan berkesudahan pada kesia-siaan, gugur tidak bernilai, laksana abu yang ditiup angin di Hari Angin Badai”.

“Makrifat itu memastikan datangnya tenteram pada hati seperti juga ilmu membawa ketenteraman pada akal. Siapa yang bertambah nilai makrifatnya, bertambah pulalah rasa tenteram pada hatinya.” (ucapan Ad-Daqqaq : Risalah Qusyairaiyah).

“Maka sayogianya bagi orang yang berakal agar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menuntut Ilmu Makrifat para ahli sufi dan tidak menunda-nunda dalam hal itu. Janganlah terjadi, bila maut datang menjelang, kebutaan kerana kebodohan datang menimpa (akhirnya) tidak ada lagi jalan untuk melihat cerah.

Allah berfirman :
“Dan sesiapa yang buta di dunia (nescaya) ia buta di akhirat.” (Al-Isra’ : 72)

Imam al-Ghazali rahimahuLlah belum merasakan nikmatnya ilmu ini meskipun sudah menjadi ulama ikutan para zamannya sebagai seorang Pembesar Negeri. Beliau mendapat kepuasan batin setelah beliau menyediakan sebahagian umurnya untuk 
beruzlah sambil beliau menyusun beberapa kitab dimana sebuah kitab beliau yang terkenal ialah Ihya ‘Ulumuddin.

Sebahagian para ‘ArifbiLlah mengatakan (termasuk Imam al-Ghazali) :
“Siapa yang tidak kebagian ilmu ini (ilmu batin), saya khawatir atasnya akan menemukan “
su-ul khatimah” dan tidak ada jalan yang dapat mengenalNya kecuali dengan perasaan murni”. (Sirajut Tholibin)

Yang dimaksudkan mengenal diri ialah dengan menegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah. Mengenal Allah yang bersifat Kemuliaan, Keagungan dan Kuasa. Dan mengenal diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanya sebagai seorang musafir dari dunia menuju akhirat”. (Sirajut Tholibin)

“Hanya sanya, mereka yang telah mencapai tingkat MAKRIFAT adalah mereka yang (dalam batin) tidak menghiraukan sesuatu yang ada pada mereka dan bertahan pada apa yang ada pada Allah SWT”. (Risalah Al-Qusyairiyah)

Dunia para ‘ArifbiLlah adalah dunia kebatinan dengan ‘ asyik wal ma’syuk. Mereka tenggelam dalam dunianya yang mereka rasa lebih nikmat dan suci berbanding dengan dunia material yang sedang dihadapinya. Demikian pula ungkapan oleh Syaikh Junaid yang sama sekali tidak menghiraukan apapun jua kecuali yang mereka cintai. Kalau dunia material itu ada pada mereka, sama sekali tidak tersangkut di dalam hatinya – meskipun hanya selembar sapu tangan. Hati hanyalah tempat zikrullah. Akal dan nafsu melaksanakan tugasnya tetapi jangan membawa hati yang berperasaan murni ke dalam kancah dunia yang menggiurkan.

“Demikianlah, sesungguhnya terdapat perbedaan tingkat makhluk dalam hal makrifat kepada Allah Taala, menurut ukuran apa yang terbuka buat mereka dari pemberian-pemberian Allah (ilmu-ilmu yang halus), keajaiban-keajaiban segala yang dikuasaiNya, dan keindahan-keindahan ayat-ayatNya di dunia dan akhirat, di alam nyata maupun di alam ghaib (malakut). Bertambah makrifat mereka dengan Allah dan bertambah dekat pula tingkat makrifat mereka menuju makrifat yang sebenarnya / hakiki”. (Siraj Tholibin)

rujukan: 
Kitab Liku-Liku Jalan KeTuhanan dan Kebenaran - oleh Syeikh Tokku

Posted by